Jalan Menuju Allah:Memahami syariat thariqah dan hakikat

Pengertian syariat thoriqot dan haqiqot

Jalan Menuju Allah: Memahami Syariat, Thariqah, dan Hakikat



 Dalam ajaran Islam, jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala terbagi menjadi tiga tahapan utama, yaitu: Syariat, Thariqah, dan Hakikat. Ketiga hal ini saling berkaitan dan menjadi pijakan bagi setiap muslim dalam menempuh perjalanan spiritualnya. 

I. SYARI'AT

Syariat merupakan fondasi awal bagi seorang hamba dalam beragama.

الشَّرِيعَةُ هِيَ الْأَخْذُ وَالْإِتِّبَاعُ لِدِينِ اللهِ تَعَالَى وَالْإِمْتِثَالُ لِلْمَأْمُورَاتِ وَالْإِجْتِنَابُ عَنِ الْمَنَّهِيَاتِ
Artinya:"Syariat adalah mengambil (melaksanakan) dan mengikuti agama Allah SWT, dengan menjalankan perintah-perintah dan menjauhi semua larangan-larangan.

 Agama Allah dijabarkan dalam tiga cabang ilmu utama yang hukumnya fardhu 'ain (wajib bagi setiap individu) untuk dipelajari, yaitu:

 1. Ilmu Tauhid
الْعِلْمُ الَّذِي يُصَحِّحُ الْعَقِيدَةَ
"Ilmu yang membawa akidah menjadi benar"

 2. Ilmu Fiqih
الْعِلْمُ الَّذِي يُصَحِّحُ الْعِبَادَةَ
"Ilmu yang membawa ibadah menjadi benar"

3. Ilmu Tasawuf
                           الْعِلْمُ الَّذِي يُصْلِحُ الْقَلْبَ**
"Ilmu yang membawa hati menjadi baik (ilmu untuk membersihkan hati).

II. THARIQAH (THORIQOH)


 Setelah memahami dan menjalankan syariat, seorang hamba menempuh tahap Thariqah sebagai bentuk penyempurnaan amalan.

 
الطَّرِيقَةُ هِيَ الْأَخْذُ بِالْأَحْوَطِ فِي سَائِرِ الْأَعْمَال
Artinya:
Thariqah adalah mengambil (melaksanakan) agama dengan sangat waspada dan berhati-hati di dalam semua amal perbuatan."

 Di antara bentuk sikap sangat waspada dan berhati-hati dalam menjalankan agama adalah memiliki sifat Wara’dan 'Azimah (seperti Riyadhah). 

A.wara

MengenaI Sifat Wara’
Menurut Imam Abul Qasim Al-Qusyairi, wara’ adalah meninggalkan hal-hal yang bersifat syubhat (sesuatu yang belum jelas kehalalannya):

قَالَ الْقُشَيْرِيُّ : الْوَرَعُ تَرْكُ الشُّبُهَاتِ
Diriwayatkan mengenai keutamaan derajat ahli Wara' dan Zuhud:

(حُكِيَ) أَنَّهُ أَوْحَى اللهُ إِلَى نَبِيِّهِ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ : لَمْ يَتَقَرَّبْ إِلَيَّ الْمُتَقَرِّبُونَ بِمِثْلِ الْوَرَعِ وَالزُّهْدِ.
Artinya:
 Sesungguhnya Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s.: "Para Mutaqarribun (orang yang mendekatkan diri) tidak mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sesuatu yang sebanding dengan jalan Wara' dan Zuhud."Abu Hurairah r.a.juga menegaskan pentingnya sifat ini:

وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : جُلَسَاءُ اللهِ غَدًا أَهْلُ الْوَرَعِ وَالزُّهْدِ.**
Artinya:
Abu Hurairah r.a. berkata: *"Orang-orang yang bersanding dengan Allah besok (di hari kiamat) adalah orang-orang yang ahli Wara' dan ahli Zuhud."

Tingkatan Sifat Wara’ Menurut Imam Al-Ghazali** Imam Al-Ghazali membagi sifat wara’ menjadi empat tingkatan. Tingkatan pertamanya adalah:

1. Wara’ Al-‘Adli (*Wara’-nya Orang yang Adil)
وَرَعُ الْعَدْلِ وَهُوَ تَرْكُ كُلِّ مَا يُحَرِّمُهُ فَتْوَى الْفُقَهَاءِ كَالرِّبَا وَالْمُعَامَلَاتِ الْفَاسِدَةِ
Artinya:Yaitu meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan menurut fatwa para fuqaha (ahli fikih), seperti memakan barang riba dan muamalah yang fasidah (rusak).

Kisah Teladan Kehati-hatian dalam Wara’ Betapa telitinya para ulama terdahulu menjaga diri dari hal syubhat tercermin dari sebuah kisah yang disampaikan oleh Kahmas

قَالَ كَهْمَسٌ : أَذْنَبْتُ ذَنْبًا أَبْكِي عَلَيْهِ مُنْذُ أَرْبَعِينَ سَنَةً وَذَلِكَ أَنَّهُ زَارَنِي أَخٌ لِي فَاشْتَرَيْتُ بِدَانِقٍ سَمَكَةً مَشْوِيَّةً فَلَمَّا فَرَغَ أَخَذْتُ قِطْعَةَ طِينٍ مِنْ جِدَارِ جَارٍ لِي حَتَّى غَسَلَ يَدَهُ وَلَمْ أَسْتَحِلَّهُ.
Artinya: 
Kahmas berkata: "Aku melakukan suatu dosa yang kutangisi selama empat puluh tahun. Dosa tersebut adalah: sesungguhnya saudaraku mengunjungiku, kemudian aku membelikan ikan goreng seharga satu daniq (seperenam dirham). Setelah selesai makan, aku mengambil secuil tanah dari tembok tetanggaku agar saudaraku dapat mencuci tangannya, sementara aku belum meminta kehalalan (izin) dari tetanggaku tersebut."

2. Waro’ Ash-Sholihin (waro’nya orang-orang yang sholeh)

وَرَعُ الصَّالِحِينَ وَهُوَ تَرْكُ الشُّبُهَاتِ
Yaitu meninggalkan barang-barang syubhat (sesuatu yang belum jelas ke-halalannya)."

قِيلَ لِإِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَمَ : أَلَا تَشْرَبُ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ؟ فَقَالَ : لَوْ كَانَ لِي دَلْوٌ لَشَرِبْتُ.
Artinya :
Ibrahim bin Adham ditanya : "Apakah kamu tidak minum air zamzam?"Dia menjawab : "Seandainya aku punya timba maka aku akan minum."

(Hikayat yang panjang yang diterangkan dalam kitab An-Nawadir halaman 36 - 37)

3. Waro’ Al-Muttaqien (waro’nya orang-orang yang bertakwa)

وَرَعُ الْمُتَّقِينَ وَهُوَ تَرْكُ مَا لَا بَأْسَ بِهِ مَخَافَةَ مَا بِهِ بَأْسٌ
Yaitu meninggalkan sesuatu yang tidak ada bahayanya (halal), karena takut dengan sesuatu yang berbahaya (haram)."

قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : كُنَّا نَدَعُ تِسْعَةَ أَعْشَارِ الْحَلَالِ مَخَافَةَ أَنْ نَقَعَ فِي الْحَرَامِ.
Artinya :
 Umar bin Khottob r.a. berkata : "Kami meninggalkan sembilan persepuluh dari hal-hal yang halal karena kami takut terjerumus dalam keharaman."

4. Waro’ Ash-Shiddiqien (waro’nya orang-orang yang shiddiq)

وَرَعُ الصِّدِّيقِينَ وَهُوَ تَرْكُ مَا هُوَ مُنْفَكٌ عَنِ الْآفَاتِ
"Yaitu meninggalkan sesuatu yang terbebas dari afat (hanya karena takut terlena atau lupa dari Alloh)."
Dalam istilah lain :
تَرْكُ مَا سِوَى اللهِ فِي الْقَلْبِ
"Meninggalkan sesuatu selain Alloh di dalam hati."

Kisah Teladan Waro’ Ash-Shiddiqien

وَرَهَنَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَطْلًا عِنْدَ بَقَّالٍ بِمَكَّةَ حَرَسَهَا اللهُ تَعَالَى فَلَمَّا أَرَادَ فِكَاكَهُ أَخْرَجَ الْبَقَّالُ إِلَيْهِ سَطْلَيْنِ وَقَالَ : "خُذْ أَيَّهُمَا لَكَ" فَقَالَ أَحْمَدُ : "أَشْكَلَ عَلَيَّ سَطْلِي، فَهُوَ لَكَ وَالدَّانِقُ لَكَ". فَقَالَ الْبَقَّالُ : "سَطْلُكَ هَذَا وَإِنَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَخْتَبِرَكَ". فَقَالَ أَحْمَدُ : "لَا آخُذُهُ، وَمَضَى وَتَرَكَ السَّطْلَ عِنْدَهُ".
Artinya :
 Imam Ahmad bin Hambal menggadaikan timba (ember) kepada seorang penjual sayuran di kota Makkah (semoga Allah selalu menjaga Makkah).

 Ketika Imam Ahmad ingin menebusnya, si penjual sayur mengeluarkan dua buah ember lalu berkata: Ambillah salah satunya untukmu!" Imam Ahmad berkata: *"Aku tidak tahu yang mana emberku, maka ember dan uang dirhamku untukmu."Si penjual [berkata: "Ini embermu, aku hanya ingin mengujimu."Namun Imam Ahmad menjawab: "Aku tidak akan mengambilnya,"lalu beliau pergi dan meninggalkan embernya ditempat penjual sayur.


وَحُكِيَ - أَنَّ أُخْتَ بِشْرٍ الْحَافِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا جَاءَتْ إِلَى الإِمَامِ أَحْمَدَ وَقَالَتْ : "إِنَّا نَغْزِلُ فِي سُطُوحِنَا، فَتَمُرُّ بِنَا مَشَاعِلُ الطَّاهِرِيَّةِ، وَيَقَعُ الشُعَاعُ عَلَيْنَا، أَيَجُوزُ لَنَا الغَزْلُ فِي شُعَاعِهَا؟" فَقَالَ أَحْمَدُ : "مَنْ أَنْتِ، عَافَاكِ اللهُ؟" فَقَالَتْ : "أُخْتُ بِشْرٍ الْحَافِيِّ". فَبَكَى أَحْمَدُ وَقَالَ : "مِنْ بَيْتِكُمْ يَخْرُجُ الْوَرَعُ الصَّادِقُ، لَا تَغْزِلِي فِي شُعَاعِهَا"

Artinya :

Diceritakan bahwasanya saudara perempuan Bisyr Al-Hafi r.a. mendatangi Imam Ahmad, ia berkata : "Sungguh kami sedang memintal diatas loteng kami, kemudian ada sinar obor (sokle) suku At-Thohiriyyah menerangi kami, apakah kami boleh memintal dengan penerangan dari sinar obor (sokle) tersebut?" Imam Ahmad berkata : "Siapa engkau, Semoga Allah mengampunimu?" Wanita itu menjawab : "Saudara perempuan Bisyr Al-Hafi." Lalu Imam Ahmad menangis dan berkata: "Dari rumah kalian telah keluar sifat Waro' yang sesungguhnya, janganlah engkau memintal dengan penerangan obor itu."

B. 'Azimah

العَزِيمَةُ هِيَ الثَّبَاتُ عَلَى القَصْدِ، وَالمُرَادُ بِهَا هُنَا الجِدُّ وَالصَّبْرُ عَلَى الأَمْرِ الشَّاقِّ عَلَى النَّفْسِ المُمَاثِلِ لِهَوَاهَا.

​'Azimah menurut bahasa adalah tujuan yang sangat kuat, yang dimaksudkan di sini adalah bersungguh-sungguh dan sabar atas masalah-masalah yang berat menurut nafsu yang bertentangan dengan hawa nafsunya.

Contohnya seperti Riyadhah :

الرِّيَاضَةُ هِيَ حَمْلُ النَّفْسِ عَلَى الأَعْمَالِ الَّتِي يَقْتَضِيهَا الخُلُقُ المَطْلُوبُ كَالسَّهَرِ، وَالْجُوعِ، وَالعُزْلَةِ، وَالزُّهْدِ، وَالصِّدْقِ، وَتَرْكِ الشَّهَوَاتِ، وَغَيْرِهَا مِمَّا يُقَرِّبُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Artinya :

"Riyadhah adalah mendorong nafsu untuk melakukan amal-amal yang dituntut akhlaq budi yang bagus, seperti : terjaga pada waktu malam hari, mampu menahan lapar, zuhud, jujur, 'uzlah, meninggalkan barang yang diingini nafsu dan lain-lain yaitu semua sifat dan perilaku yang bisa mendekatkan diri kepada Allah swt."

قَالَ الحَسَنُ القَزَّازُ : بُنِيَ هَذَا الأَمْرُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ : أَنْ لَا تَأْكُلَ إِلَّا عِنْدَ الفَاقَةِ، وَلَا تَنَامَ إِلَّا عِنْدَ الغَلَبَةِ، وَلَا تَتَكَلَّمَ إِلَّا عِنْدَ الضَّرُورَةِ.

Artinya :

Al-Hasan Al-Qozaz berkata : "Perkara ini (riyadhah) dibangun atas tiga perkara :

  1. Janganlah kamu makan kecuali saat kekurangan (sangat lapar).
  2. [Janganlah kamu tidur kecuali saat rasa kantuk mengalahkanmu].
  3. [Janganlah kamu berbicara kecuali saat terpaksa]."

III. HAQIQOT

الحقيقة هي وصول السالك للمقصود وهو معرفة الله سبحانه وتعالى ومشاهدة نور التجلي

"Haqiqot adalah telah sampai bagi salik (orang yang berjalan menuju Allah Ta'ala) kepada yang dimaksud yaitu Ma'rifatulloh dan menyaksikan Nur Tajalli."

وقال الغزالي: "التجلي هو ما ينكشف للقلب من أنوار الغيب."

➤ Menurut Imam Al-Ghozali:
"Tajalli adalah nur dari sesuatu yang ghoib yang dibukakan di dalam hati."
قال القشيري: "الشريعة هي أمر أي ائتمار بالتزام العبودية، والحقيقة مشاهدة الربوبية أي رؤيته بقلبه."

➤ Menurut Imam Abul Qosim Al-Qusyairi:
"Syari'at adalah menerima perintah untuk melaksanakan pengabdian kepada Allah secara rutin, sedangkan Haqiqot adalah melihat dengan hati akan sifat-sifat ketuhanan."

Ulama' ahli tashowuf mengumpamakan syari'at laksana perahu, thoriqot laksana laut dan haqiqot laksana mutiara yang bernilai tinggi. Syari'at diumpamakan laksana perahu sebab syari'at itu merupakan sarana untuk keselamatan dari kerusakan dalam mencapai tujuan. Thoriqot diumpamakan seperti laut sebab laut merupakan tempat mutiara yang dimaksud. 

Haqiqot diumpamakan seperti mutiara yang mahal dan bernilai tinggi, artinya mutiara itu tidak mungkin didapatkan kecuali di dalam laut. Orang tidak akan sampai ke tengah laut kecuali dengan menggunakan perahu, maka untuk memperoleh mutiara yang mahal tidak mungkin, kecuali dengan:

1.Menggunakan perahu.
2.Mencari ke dalam laut.

Begitu pula haqiqot tidak akan diperoleh kecuali dengan menggunakan:
1.Syari'at.
2.Thoriqot.

Perumpamaan tersebut dikatakan oleh Syaikh Zainuddin bin Ali Al-Ma'bari dalam kitabnya Hidayatul Adz-Kiya'.

شريعة كسفينة وطريقة كالبحر ثم حقيقة در غلا

Maka, syari'at itu laksana perahu dan thoriqot laksana laut, kemudian haqiqot laksana mutiara yang mahal.

Sedangkan sebagian 'ulama' ahli tashowuf yang lain mengumpamakan syari'at, thoriqot dan haqiqot seperti buah pala. Syari'at laksana kulitnya, thoriqot laksana isinya dan haqiqot laksana minyaknya. Seseorang tidak akan memperoleh minyaknya kecuali setelah memperoleh isinya dan ia tidak dapat memperoleh isinya kecuali setelah memecah kulitnya.
Blogger ,