Kisah Nabi Musa As Dan Nabi Khidir As

 Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir

Kisah Nabi Musa


Musa adalah anak Amram bin Kehat bin Lewi, anak Yakub bin Ishak . Ia diangkat menjadi nabi sekitar tahun 1450 SM. Ia memiliki 2 orang anak ( Gersom dan Eliezer) dari istrinya,Zipora.

Ia wafat di Tanah Tih (Gunung Nebo) sekitar sebulan sebelum bangsa Israel memasuki tanah Kana'an setelah 40 tahun mengembara di padang gurun sesudah keluar dari Mesir.selengkapnya baca di wikipedia


Kisah Nabi Musa As dan Nabi Khidir As di dalam Al Quran Surah Al Kahf

وَإِذْ قَالَ مُوسٰى لِفَتٰىهُ لَآ أَبْرَحُ حَتّٰىٓ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِىَ حُقُبًا
Wa uz qoola muusaa lifataahu laaa abrohu hattaaa ablugho majma'al-bahroini au amdhiya huqubaa

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun."(QS. Al-Kahf 18: Ayat 60)
فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِى الْبَحْرِ سَرَبًا
fa lammaa balaghoo majma'a bainihimaa nasiyaa huutahumaa fattakhoza sabiilahuu fil-bahri sarobaa


"Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengambil jalannya ke laut itu."(QS. Al-Kahf 18: Ayat 61)
فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتٰىهُ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هٰذَا نَصَبًا
fa lammaa jaawazaa qoola lifataahu aatinaa ghodaaa`anaa laqod laqiinaa min safarinaa haazaa nashobaa

"Maka ketika mereka telah melewati (tempat itu), Musa berkata kepada pembantunya, Bawalah kemari makanan kita; sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini."(QS. Al-Kahf 18: Ayat 62)
قَالَ أَرَءَيْتَ إِذْ أَوَيْنَآ إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّى نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَآ أَنْسٰىنِيهُ إِلَّا الشَّيْطٰنُ أَنْ أَذْكُرَهُۥ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِى الْبَحْرِ عَجَبًا
qoola a ro`aita iz awainaaa ilash-shokhroti fa innii nasiitul-huuta wa maaa ansaaniihu illasy-syaithoonu an azkuroh, wattakhoza sabiilahuu fil-bahri 'ajabaa

"Dia (pembantunya) menjawab, Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 63)
قَالَ ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ فَارْتَدَّا عَلٰىٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصًا
qoola zaalika maa kunnaa nabghi fartaddaa 'alaaa aasaarihimaa qoshoshoo

"Dia (Musa) berkata, Itulah (tempat) yang kita cari. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula,"(QS. Al-Kahf 18: Ayat 64)

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
fa wajadaa 'abdam min 'ibaadinaaa aatainaahu rohmatam min 'indinaa wa 'allamnaahu mil ladunnaa 'ilmaa

"lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami."(QS. Al-Kahf 18: Ayat 65)

قَالَ لَهُۥ مُوسٰى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلٰىٓ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
qoola lahuu muusaa hal attabi'uka 'alaaa an tu'allimani mimmaa 'ullimta rusydaa

"Musa berkata kepadanya, Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?"(QS. Al-Kahf 18: Ayat 66)

قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا
qoola innaka lan tastathii'a ma'iya shobroo

"Dia menjawab, Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 67)

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلٰى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِۦ خُبْرًا
wa kaifa tashbiru 'alaa maa lam tuhith bihii khubroo

"Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"(QS. Al-Kahf 18: Ayat 68)

قَالَ سَتَجِدُنِىٓ إِنْ شَآءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَآ أَعْصِى لَكَ أَمْرًا

qoola satajiduniii in syaaa`allohu shoobirow wa laaa a'shii laka amroo

"Dia (Musa) berkata, Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun."(QS. Al-Kahf 18: Ayat 69)

قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِى فَلَا تَسْئَلْنِى عَنْ شَىْءٍ حَتّٰىٓ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا
qoola fa inittaba'tanii fa laa tas`alnii 'an syai`in hattaaa uhdisa laka min-hu zikroo.

"Dia berkata, Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 70)

فَانْطَلَقَا حَتّٰىٓ إِذَا رَكِبَا فِى السَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا
fantholaqoo, hattaaa izaa rokibaa fis-safiinati khoroqohaa, qoola a khoroqtahaa litughriqo ahlahaa, laqod ji`ta syai`an imroo

"Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 71)

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا
qoola a lam aqul innaka lan tastathii'a ma'iya shobroo

"Dia berkata, Bukankah sudah ku katakan, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?"
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 72)
ُ وَلَا تُرْهِقْنِى مِنْ أَمْرِى عُسْرًا
qoola laa tu`aakhiznii bimaa nasiitu wa laa tur-hiqnii min amrii 'usroo

"Dia (Musa) berkata, Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 73)

فَانْطَلَقَا حَتّٰىٓ إِذَا لَقِيَا غُلٰمًا فَقَتَلَهُۥ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةًۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُّكْرًا
fantholaqoo, hattaaa izaa laqiyaa ghulaaman fa qotalahuu qoola a qotalta nafsan zakiyyatam bighoiri nafs, laqod ji`ta syai`an nukroo

"Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka dia membunuhnya. Dia (Musa) berkata, Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 74)

قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا
qoola a lam aqul laka innaka lan tastathii'a ma'iya shobroo

"Dia berkata, Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?"
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 75)

قَالَ إِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَىْءٍۢ بَعْدَهَا فَلَا تُصٰحِبْنِى ۖ قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَّدُنِّى عُذْرًا
qoola in sa`altuka 'an syai`im ba'dahaa fa laa tushoohibnii, qod balaghta mil ladunnii 'uzroo

"Dia (Musa) berkata, Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 76)

فَانْطَلَقَا حَتّٰىٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَآ أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ فَأَقَامَهُۥ ۖ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا
fantholaqoo, hattaaa izaaa atayaaa ahla qoryatinistath'amaaa ahlahaa fa abau ay yudhoyyifuuhumaa fa wajadaa fiihaa jidaaroy yuriidu ay yangqodhdho fa aqoomah, qoola lau syi`ta lattakhozta 'alaihi ajroo

"Maka keduanya berjalan; hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka (penduduk negeri itu) tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh (di negeri itu), lalu dia menegakkannya. Dia (Musa) berkata, Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 77)

قَالَ هٰذَا فِرَاقُ بَيْنِى وَبَيْنِكَ ۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا
qoola haazaa firooqu bainii wa bainik, sa`unabbi`uka bita`wiili maa lam tastathi' 'alaihi shobroo

"Dia berkata, Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 78)

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسٰكِينَ يَعْمَلُونَ فِى الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُمْ مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا
ammas-safiinatu fa kaanat limasaakiina ya'maluuna fil-bahri fa arottu an a'iibahaa, wa kaana warooo`ahum malikuy ya`khuzu kulla safiinatin ghoshbaa

"Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut; aku bermaksud merusaknya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 79)

وَأَمَّا الْغُلٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَآ أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيٰنًا وَكُفْرًا
wa ammal-ghulaamu fa kaana abawaahu mu`minaini fa khosyiinaaa ay yur-hiqohumaa thughyaanaw wa kufroo

"Dan adapun anak muda (kafir) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 80)

فَأَرَدْنَآ أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكٰوةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا
fa arodnaaa ay yubdilahumaa robbuhumaa khoirom min-hu zakaataw wa aqroba ruhmaa

"Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak lain) yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya)."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 81)

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِى الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُۥ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صٰلِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُۥ عَنْ أَمْرِى ۚ ذٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا
wa ammal-jidaaru fa kaana lighulaamaini yatiimaini fil-madiinati wa kaana tahtahuu kanzul lahumaa wa kaana abuuhumaa shoolihaa, fa arooda robbuka ay yablughooo asyuddahumaa wa yastakhrijaa kanzahumaa rohmatam mir robbik, wa maa fa'altuhuu 'an amrii, zaalika ta`wiilu maa lam tasthi' 'alaihi shobroo

"Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya."

(QS. Al-Kahf 18: Ayat 82* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com





terkait
kesimpulan kisah nabi musa dan nabi khidir
kisah nabi khidir dari lahir sampai wafat
pelajaran dari kisah nabi musa dan nabi khidir
rangkuman kisah nabi khidir

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url