Ranjang Pengantin Berdarah Bab 1

 Ranjang Pengantin Berdarah


Gratis di Fizzo.


“Argh! Sakit. Ampun, tolong berhenti. Ampun. Mas, tolong aku ...!” Jerit kesakitan Miranti menggema di malam yang terasa sepi.


Aku berusaha melepaskan diri dari belitan tali yang mengikat kuat tubuh ini, hendak menolong Miranti dari perlakuan be jat Victor yang tengah merudapaksa wanita yang baru aku nikahi beberapa jam yang lalu itu.


“Mas, tolong aku. Sakit!” jerit istriku lagi, akan tetapi ketidak berdayaanku membuat semua terjadi begitu saja. Victor telah berhasil merenggut semua, mengambil mahkota paling berharga milik istri yang seharusnya menjadi hakku malam ini.


Aku mencoba memalingkan wajah agar tidak menyaksikan perbuatan kotornya itu, akan tetapi dua orang anak buah Victor terus memegangi kepalaku supaya terus melihat apa yang tengah dilakukan bosnya terhadapku.


Rasanya begitu sakit hatiku, karena dalam keadaan seperti ini aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk membebaskan istri dari perlakuan menjijikkan laki-laki yang selama ini menaruh hati kepada Miranti tetapi ia tolak karena dia sudah menerima pinangan dariku.


Malam ini seharusnya menjadi malam pertama untuk kami, akan tetapi tiba-tiba Victor datang menghancurkan segalanya.


Dengan membabi-buta pria be jat itu merenggut segalanya, menyisakan luka yang menganga di dalam dada.


Suara le nguhan panjang mengakhiri perbuatan tidak bermoralnya. Tubuh Miranti sudah terlihat lemas, mata wanitaku nanar menatap langit-langit kamar sementara bibirnya terkatup rapat.


Dia menangis tertahan, menjerit pun mungkin sudah tidak bisa dia lakukan.


Menit berikutnya Victor meminta anak buahnya untuk menggilir istri, lalu tertawa puas setelah menyalurkan dendamnya kepada wanita yang teramat aku cintai.


*


Samar-samar terdengar suara sang muazin mengumandangkan azan subuh. Victor beserta kedua anak buahnya segera mengenakan pakaian, bersiap pergi meninggalkan kami dalam keadaan yang begitu kacau berantakan sambil tertawa puas.


Sebelum pergi salah satu anak buahnya melepas lakban yang menutup mulut ini, akan tetapi tidak dengan belitan tali yang mengikat kuat di tiang ranjang.


“Sekarang kamu rasakan sendiri akibatnya karena sudah berani melawan saya, Ranti!” ucap Victor sebelum dia pergi meninggalkan kami sambil meludahi wajah Miranti yang sudah terkapar tidak berdaya.


Victor adalah anak salah seorang saudagar kaya di daerah tempat tinggalku, dan pantang bagi dirinya untuk ditolak jika sudah menginginkan sesuatu dari kami orang-orang kalangan bawah.


“Breng-sek kamu, Victor. Akan kubalas semua perbuatan kamu!” teriakku.


“Mau balas pake apa hah? Melepaskan diri saja tidak mampu, malah sok-sokan mau balas dendam. Memangnya bisa?!” ejek Victor sambil menatap mengejek.


Aku terus memberontak, mencoba melepaskan diri, akan tetapi ikatan yang membelit tubuh terlalu kuat hingga aku tidak bisa melakukannya.


Menit berikutnya Victor pergi meninggalkan kamar pengantinku, sementara Miranti masih terkapar tidak berdaya juga tidak sadarkan diri.


Aku terus berusaha mencari bantuan, berteriak meminta tolong namun kami tinggal di sebuah dusun terpencil, dimana jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya bisa beratus-ratus meter jauhnya.


‘Kutatap wajah cantik Miranti yang kini sudah dipenuhi luka lebam, ingin menyentuh dan memeluknya akan tetapi aku sendiri dalam keadaan tidak berdaya.


Tuhan, kenapa hidup bisa tidak adil seperti ini?


Beberapa menit kemudian Miranti terlihat membuka mata perlahan, lalu mengerang kesakitan dan menangis tersedu sambil memeluk lututnya.


“Jangan menangis, Dek. Ada Mas di sini,” ucapku dengan nada parau.


Miranti tetap saja tersedu, lalu berteriak histeris dan mengusap kasar permukaan kulit tubuhnya.


“Aku kotor. Aku wanita kotor. Aku kotor!” jeritnya sambil menangis, dan menit berikutnya ia tertawa terbahak-bahak membuatku merasa begitu khawatir dengan keadaannya.


“Istigfar, Dek. Istigfar. Kamu bukan wanita kotor, Sayang. Kamu tetap istrinya, Mas. Dan selamanya akan seperti itu?” bujukku, dan ternyata wanita berambut panjang itu langsung menoleh dan menatapku lekat.


Aku berusaha tersenyum, menepis luka yang begitu terasa sakit di dalam sanubari, memberikan isyarat kepada Miranti bahwa aku masih mau menerima dia apa pun keadaannya sekarang.


Lagi dan lagi, air mata mengalir deras dari balik kelopak Miranti, dan wanita itu segera berdiri, berjalan gontai menuju meja rias lalu mengambil sebilah pisau buah yang ada di atas piring.


“Aku kotor. Aku harus membersihkan tubuh ini dari kotoran yang ditinggalkan oleh ba ji ngan itu. Aku harus membersihkannya,” racau Miranti sambil menatap tajam pisau yang ada di tangan, membuat rasa takut seketika merambati hati.


“Apa yang hendak kamu lakukan, Dek. Jangan bermain-main dengan pisau itu. Tolong buang, Dek!” pintaku dengan perasaan khawatir luar biasa.


Miranti kembali duduk di bibir ranjang, menatap seprai bertabur kelopak mawar serta melati dengan bercak darah di permukaannya, lalu menatap wajahku nanar dan kembali menangis tersedu.


“Aku kotor, Mas. Aku kotor!” pekiknya.


“Tidak, Dek. Kamu tidak kotor. Kamu tetap wanita teristimewa di hati Mas,” ucapku sambil terus memberontak, apalagi ketika Miranti mulai menggosokkan pisau di kulitnya sambil meracau.


“Aku kotor. Aku harus membersihkan tubuh ini dari sisa jamahan mereka semua!” ujarnya.


“Hentikan, Sayang. Tolong jangan lakukan itu. Mas mohon. Mas mencintai kamu, Dek. Mas juga akan menerima kamu apa pun yang terjadi.” Aku berusaha mencegah, namun wanita itu terus melakukan aksi nekatnya menyakiti diri sendiri.


Tubuh Miranti kini sudah dipenuhi oleh cairan Merah. Dia meringis kesakitan karena sebagian kulitnya telah terkelupas, akan tetapi wanita itu tetap tidak mau menghentikan apa yang sedang dia lakukan.


Ranjang pengantinku kini memerah berlumuran darah, suara rintih kesakitan Miranti mengisi pagi hari yang terasa masih begitu sepi.


Aku menjerit histeris ketika tubuh itu terkulai lemas di atas ranjang, dan perlahan dia mengejang, hingga akhirnya tidak terdengar lagi suara rintih kesakitan istriku.


Tidak lama kemudian seorang tetangga datang dan mengetuk pintu. Aku mengabaikannya, terus berteriak memanggil nama istri hingga dia akhirnya memberanikan diri untuk masuk dan beringsut mundur saat melihat keadaan kami.


Tidak butuh waktu lama para tetangga pun menyemut, mengerubuti kami seolah kejadian ini adalah sebuah tontonan yang begitu menarik untuk disaksikan, lalu membantu melepas tali yang mengikat tubuh ini setelah kepala rukun tetangga datang.


Beberapa orang polisi pun datang, dan mereka segera mengevakuasi tubuh Miranti yang sudah tidak bernyawa lalu memasukkannya ke dalam kantung jenazah.


“Heh, mau di bawa ke mana istri saya? Jangan bawa dia dari sini!” teriakku sambil berjalan menghampiri polisi yang hendak membawa Miranti.


Walaupun tubuh terasa remuk karena hampir semalaman terus berusaha melepaskan diri dari belitan tali yang menjerat badan, aku tetap mempertahankan tubuh istri agar tidak dibawa pergi oleh mereka.


“Istigfar, Azhar. Kamu tidak boleh seperti itu. Ikhlaskan Ranti, dan biarkan polisi mengusut masalah ini sampai tuntas,” ujar kepala desa sambil memegangi tubuh ini.


Aku menangis tersedu, terus menatap wajah istri juga mengusap matanya yang terbelalak, lalu mengecup puncak kepalanya dengan air mata berlinang membasahi pipi.


“Tidurlah dengan tenang, Sayang. ‘Kan kubalas semua perbuatan be jat mereka, dan aku tidak akan membiarkan satu orang pun lolos dari kejaranku nanti,” bisikku sambil mengusap rambut istri yang sudah kaku oleh darah, lalu membiarkan polisi membawa jenazahnya untuk diautopsi.


*


Seminggu sudah prahara malam pertama berdarah itu terjadi, akan tetapi belum ada kabar penangkapan tentang pelaku rudapaksa, bahkan aku lihat Victor masih melenggang bebas seolah tidak terjadi apa-apa.


Dan hingga hampir dua bulan berlalu, akhirnya kasus ke ma tian serta pemer kosaan yang dialami oleh Miranti ditutup, dengan alasan pihak polisi tidak menemukan bukti kejahatan yang dilakukan oleh Victor beserta teman-temannya, dan mereka menganggap kepergian Miranti murni karena bu nuh di ri.


Sambil mengumpulkan kekuatan aku menyusun rencana untuk membalaskan dendamku kepada para penjahat itu, akan tetapi sebelum benar-benar bisa membalas semuanya Victor malah sudah terlebih dahulu pindah entah ke mana.


Dan sekarang, setelah sembilan belas tahun berlalu, aku menemukan keberadaan ba ji ngan itu.


Dia telah hidup bahagia dan menikah dengan seorang wanita yang terlihat begitu bersahaja, juga memiliki anak perempuan yang begitu cantik memesona.


“Papa?” Aku terus memandangi perempuan muda berseragam SMA yang sedang berjalan setengah berlari menghampiri Victor, tersenyum smirk karena permainan sepertinya akan semakin seru jika menggunakan gadis berkerudung itu sebagai ajang balas dendamku.


Permainan kita akan dimulai dari sekarang, Victor. Kamu akan merasakan betapa sakitnya ketika melihat wanita yang kamu cintai dilecehkan, juga akan merasakan betapa sakitnya kehilangan orang yang teramat dicintai dengan cara yang lebih tragis dari Miranti.


Cerbung ini sudah sampai bab dua di aplikasi Fizzo, dengan judul yang sama atau bisa ketik Ida Saidah di kolom pencarian,dan bisa dibaca secara gratis sampai tamat

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url